FKG (Titik) Tidak Pakai (Koma)
 

          Sebagian orang mungkin asing mendengar istilah fkg bahkan mungkin anak SMA yang hendak masuk perguruan tinggi sebagian besar tidak tau apa itu fkg. Makanya kebanyakan anak sekolah kalau ditanya mau kuliah jurusan apa saat lulus SMA pasti kebanyakan menjawab kedokteran, teknik, hukum, ekonomi dan dapat dipastikan sedikit yang menjawab ingin masuk fkg. Tapi bukan itu permasalahan fkg yang ingin saya sampaikan. Kalau bahas tentang fkg ada satu pantun yang selalu saya ingat yaitu “Berakit-rakit kehulu, Berenang-renang ketepian, Perbanyak uang dahulu, Baru masuk fkg kemudian” yaa, menurut saya pantun ini sangat relevan dengan kondisi fkg saat ini. Makanya saya ingin sampaikan beruntunglah kalian yang masuk fkg, itu berarti anda termasuk orang yang dianugrahi rizky yang cukup melimpah oleh tuhan YME melalui orang tua anda. 

         Setelah baca paragraf diatas pasti kalian tau maksudnya apa, tidak usah diucapkan cukup simpan dalam hati. Ini yang membuat saya selalu bertanya jika pekerjaan orang tua saya hanya seorang buruh apakah saya bisa masuk fkg, jika pekerjaan orang tua saya hanya guru honorer apakah saya bisa masuk fkg, bermimpipun mungkin tidak bisa apa lagi menggapainya. Padahal mengejar cita-cita adalah hak semua warga negara yang dijamin oleh UUD 1945, hak semua anak yang mau berusaha bukan yang mampu biaya. 

         Saya pastikan di benak anda timbul beberapa pertanyaan, mungkin salah satunya jurusan apa sih itu fkg ?, setelah baca tulisan singkat ini kalian buka internet dan ketik saja fkg maka anda akan tau apa itu fkg. Saat anda sudah tau pasti dalam benak anda berkata “wajar mahal”, dari dua kata ini muncul optimisme bagi si kaya dan pesimisme bagi si miskin. Tetap sabar teman (miskin) ini bukan salah kalian, bukan salah orang tua kalian, bukan salah takdir kalian. Lalu salah siapa, sampai sekarang pun saya tidak tau, mungkin segerombolan ikan lumba-lumba bisa menjawab siapa yang salah. 

         Pendidikan adalah hak setiap anak negeri ini, begitupun menggapai cita-cita mereka adalah suatu keniscayaan tanpa terbebani dengan kewajiban mebayar upeti kepada mereka pembuat aturan. Jangan gantung cita-cita kalian setinggi langit karena akan butuh banyak miliaran untuk mencapainya, tapi gantunglah cita-cita kalian setinggi gunung karena cukup dengan kemauan dan usaha kalian akan mencapainya.



-Drana Yudha

Komentar